Lining Tanur Induksi

Hal utama yang perlu sangat diperhatikan disamping prinsip pemanasan dan pencairan pada penggunaan tanur induksi adalah lapisan bahan tahan panas (lining) yang berfugsi sebagai krus. Kualitas lining ini sangat berperan terhadap fungsi, keselamatan kerja, metalurgi peleburan dan efisiensi.

Beban-beban yang harus dapat diatasi oleh lining adalah:

  • Temperatur tinggi selama proses peleburan dan perubahan temperatur dari tinggi kerendah yang sangat cepat (temperatur shock) dan berulang-ulang khususnya ketika bahan baku dimuatkan.
  • Gaya-gaya mekanik yang dihasilkan oleh tekanan cairan, benturan bahan baku dan gesekan baik ketika bahan masih beku ataupun telah mencair.
  • Efek-efek metalurgi dari reaksi-reaksi yang berlangsung antara lining dengan bahan dan terak cair, unsur-unsur asing serta merusak yang berasal dari bahan baku (Zn, Pb) yang pada temperatur peleburan besi berada dalam keadaan sangat cair sehingga mampu menyusup diantara celah-celah lining.

Ketebalan lining tanur induksi berpengaruh pula terhadap efisiensi penggunaan enerji listrik karena lining yang terlalu tebal akan menghambat aliran induksi. Dengan demikian lining harus dibuat setipis mungkin dengan tetap mempertimbangkan keamanan tanur. Dewasa ini tergantung dari kapasitas muat tanur, ketebalan lining adalah antara 80 mm sampai dengan 200 mm.

Lining tanur induksi terbuat dari bahan berbentuk serbuk kasar yang kering. Bahan tersebut harus dapat terpasang dengan baik melapisi kumparan bagian dalam. Kekuatan dari bahan lining tersebut baru diperoleh setelah bahan mengalami proses sintering.

Proses sintering adalah proses pemanasan terhadap lining baru sehingga bahan lining yang semula terdiri dari serbuk kasar, sebagian berubah menjadi bersifat keramik yang tahan terhadap temperatur tinggi dan pengaruh-pengaruh kimiawi, sebagian berupa padatan masif yang segera akan berubah menjadi keramik bila daerah keramik telah menipis dan sebagian masih merupa serbuk yang mampu meredam getaran akibat benturan oleh bahan baku serta meredam retakan lining.

Selama proses peleburan daerah keramik akan terus menerus terkikis oleh cairan, namun demikian daerah padatan yang terletak tepat disebelahnya akan segera menjadi keramik sehingga ketebalan daerah keramik ini relatif tetap. Hal mana terjadi pula terhadap daerah padatan yang pada saat bagian terdepan berubah menjadi keramik bagian lain segera digantikan oleh bagian bahan serbuk yang berubah menjadi padatan.

Dengan demikian pada akhirnya bagian lining yang akan habis adalah bagian yang masih berupa serbuk. Artinya, bila bagian ini sudah habis maka lining tidak akan mampu lagi untuk meredam getaran dan retakan. Hal ini menjadi indikator bahwa lining harus segera diperbarui.

gambar 1Gambar 1. Lining setelah proses sintering

gambar 2Gambar 2. Lining setelah digunakan berkali-kali

Ketebalan dari masing-masing daerah lining sesaat setelah proses sintering selesai adalah relatif sama, dengan demikian lining dapat dinyatakan habis bila ketebalannya tinggal 2/3 dari ketebalan semula.

Temperatur dan perlakuan pemanasan pada proses sintering sangat tergantung dari jenis bahan dan merek produk lining yang digunakan, oleh karena itu sangat disarankan untuk mempelajari terlebih dahulu spek teknis dari bahan lining bersangkutan.

Secara umum bahan lining terdiri dari 3 jenis yang masing-masing memiliki karakteristik pemakaian yang berbeda, tergantung dari Basisitas bahan baku yang membentuknya.

Basisitas adalah permandingan antara mineral yang terbentuk dari oksida-oksida basa umumnya MgO (magnesit) dan Cr2O3 (Chromit) dengan mineral yang terbentuk dari Silika (SiO2) yang bersifat asam dan oksida netral (AlO2) sebagai berikut:

rumus 1

Apabila basisitas > 1, maka bahan lining memiliki karakter basa dan digunakan pada proses peleburan baja karbon polos sampai paduan tinggi dan besi cor paduan tinggi. Sedang basisitas < 1, maka bahan lining akan memiliki karakter asam dan digunakan pada umumnya proses peleburan besi cord dan baja paduan Si. Bahan lining akan memiliki karakter  netral apabila terdiri dari mineral campuran schamote (Al2O3 dan SiO2) dengan kandungan mayoritas adalah alumina (Al2O3). Lining ini dapat dipergunakan untuk proses peleburan hampir semua jenis bahan baik besi maupun baja cor.

Berikut adalah berbagai jenis mineral dengan karakteristiknya:

Mineral Basa:

  • Magnesit (MgO ≥ 80%).
  • Magnesit-Chrom (MgO = 55 – 80%).
  • Chrom-Magnesit (MgO = 25 – 55%)
  • Chromit (Cr2O3 ≥25%, MgO ≤ 25%).
  • Forsterit.
  • Dolomit.

Mineral Asam:

  • Silika (Quarsa, Quarsite, SiO2 ≥ 93%).
  • Tanah liat (SiO2 = 85 – 93%).

Mineral netral (Alumina):

  • Grup 1: Al2O3 ≥ 56%
  • Grup 2: Al2O3 = 45 – 56%

Mineral Schamote:

  • Schamote (Al2O3 = 30 – 45%)
  • Schamote asam ( Al2O3 = 10 – 30%, SiO2 < 85%).

Basisitas lining menentukan pemakaian dari tanur induksi dimana pemilihannya didasari oleh basisitas terak peleburan yang akan terbentuk selama proses. Bahan lining asam akan terkikis oleh terak peleburan berkarakter basa, demikian pula sebaliknya.

Lining baru dapat difungsikan setelah mengalami proses sintering, dimana sebagian dari bahan lining (bagian luar) yang semula terurai sebagai pasir diubah menjadi keramik melalui proses pemanasan pada temperature tinggi. Berikut disajikan kurva-kurva sintering untuk setiap karakter bahan lining.

gambar 3

  1. Drying pada 150 oC.
  2. Naikkan temperatur dengan laju pemanasan maksimum 220 oC/jam sampai suhu penahanan yaitu 1600 oC.
  3. Penahanan selama 1 jam.
  4. Pemanasan sampai temperatur taping yang diinginkan. Jangan lakukan penahanan pada temperatur diatas 1600 oC kecuali untuk keperluan taping saja.

Catatan:

Temperatur kerja maksimum 1815 oC (short time operation).

gambar 4

  1. Drying pada 150 oC.
  2. Naikkan temperatur dengan laju pemanasan maksimum 200 oC/jam sampai suhu penahanan yaitu 1650 oC.
  3. Penahanan selama 1 jam.
  4. Pemanasan sampai temperatur taping yang diinginkan. Jangan lakukan penahanan pada temperatur diatas 1650 oC kecuali untuk keperluan taping saja.

Catatan:

Temperatur kerja maksimum 1700 oC (Short time operation).

gambar 5

  1. Drying pada 150 oC.
  2. Naikkan temperatur dengan laju pemanasan maksimum 150 oC/jam sampai suhu penahanan yaitu 600 oC.
  3. Penahanan I selama 1 jam.
  4. Naikkan temperatur dengan laju pemanasan maksimum 150 oC/jam sampai suhu  900 oC.
  5. Pemanasan sampai temperatur sinter yang diinginkan dengan kecepatan 200 oC/jam. Jangan lakukan pengoperasian diatas temperatur yang diijinkan oleh spek material.

Catatan:

Temperatur kerja maksimum sesuai dengan % binder (lihat spek material)

Dari berbagai sumber.

37 responses

18 02 2010
agung priyanto

Asalamuallaikum…?

Saya mau tanya,Pak. Tentang batu tahan api untuk Lining Tanur Tinggi yang di gunakan untuk peleburan Ore-Nikel itu jenis apa ya..? Untuk proses pemadatannya di dlm tanur tinggi bagaimana pak…?
terima kasih sebelumnya.

23 04 2010
windy wulandary

aslm..
mau tanya pak,,pengaruh MgO dan SiO2 terhadap refraktory magnesia pada peleburan nikel selain penebalan dinding tanur,,apa yah pak..?? mohon penjelasan nya pak,,terimakasih

9 06 2010
adi

pak mau tanya teknik pembuatan lining tanur netral beserta dengan proses sinteringnya

10 12 2011
dodik

selamat siang pak,
kalau mau cari produk tanur induksi dimana ya pak ?
mungkin bapak tahu produsennya

balasan dari bapak sangat saya nantikan

20 03 2012
miftah

Terima kasih ilmunya…. Sala

20 10 2012
hanif

Assalmualaikum pak,
saya hanif dari polman ceper

Dari teori di atas tentang tanur induksi,kenapa untuk sintering untuk bahan silikat lebih lama dibandingkan dengan yang lain pak? adakah pengaruh yang menyebabkan lamanya proses sintering

20 10 2012
R. Widodo

Waalaikumsalam…

Yth mas Hanif.

Proses sintering terhadap lining tanur induksi bukanlah hanya sekedar memanaskan lining sampai suhu yang ditetapkan. Fenomena2 yang terjadi selama proses pemanasan, khususnya perubahan2 fasa bahan lining yang akan mengakibatkan terjadinya perubahan geometri (pemuaian) harus juga menjadi perhatian. Pemuaian yang tidak mendapat kesempatan (karena waktu yang terlalu cepat) akan mengakibatkan timbulnya internal stress (tegangan2 dalam) yang sering menimbulkan keretakan lining yang cukup parah.

Bahan lining berbasis silika (SiO2) memiliki beberapa kali perubahan fasa (pemuaian) selama proses pemanasan, yang tentu memerlukan waktu pemuaian yang lebih banyak dari bahan alumina (Al2O3) ataupun magnesia (MgO). Dengan demikian akan memerlukan waktu proses sintering yang juga lebih lama.

Semoga membantu.

6 03 2013
stefanus

Yth p.r widodo
salah satu material lining Al2O3 68%; SiO2 25%; Fe2O3 0,9%; P2O5 3,3% dengan bulk density 27000kg/m3
yg ingin sy tanyakan ialah peranan Fe2O3 dan P2O3 pada refractory tsb..apakah dengan komposisi ini refractory bagus yah pak?terima kasih

6 03 2013
R. Widodo

Yth mas Stefanus.

Bagus atau tidaknya dry ramming mix untuk tanur induksi tergantung dari kegunaannya. Karena lining dengan cairan yang dilebur didalamnya harus cocok.

Refraktory Anda itu berbasis aluminosilicate dan masih bersifat netral (tidak basa dan belum asam) sehingga biasanya digunakan untuk peleburan yang berfariasi, kadang besi cor (teraknya asam) kadang baja dan paduan2nya (teraknya basa). Karena digunakan seperti itu, maka biasanya umur pakainya pendek. Tanpa repairing paling2 60-80 heat dan bisa sampai 100 heat dengan repairing. Kalau hanya untuk besi cor akan berumur lebih panjang. Sedangkan kalau sering digunakan untuk baja paduan khususnya high Mn, maka umurnya akan lebih pendek.

Kandungan Fe2O3 dan P2O5 berfungsi untuk mempermudah proses sinter (tanpa mineral tersebut titik sinter bisa >2000 oC)

Semoga membantu.

22 03 2013
Miftah

Pak Widodo, Assalamualaikum….
Mau tanya slag removal jenis apakah untuk slaging cairan stainless steel, apakah ada pengaruhnya?
Masalah yang terjadi disini adalah slag di dalam casting, dan minta pencerahannya pak cara slaging yang benar… Terimakasih

24 03 2013
R. Widodo

Waalaikumsalam

Yth mas Miftah

Pada prinsipnya slag removal ditaburkan hanya untuk mengentalkan slag cair dipermukaan cairan sehingga dapat disingkirkan dengan lebih mudah. Namun dia tidak membersihkan cairan secara keseluruhan. Biasanya bahan slag removal hanya terdiri dari mineral2 silikat serta tidak ada yang dikhususkan untuk bahan tertentu. Yang terbaik adalah meminimalisasi produksi slag dari pada hanya sekedar menyingkirkannya.

Untuk meminimalisasi slag:
a. Bersihkan dinding furnace sebelum melting.
b. Pilih bahan baku yang bersih (semua bahan baku dishoot blasting).
c. Gunakan covering flux (untuk steel) separuh diawal pemuatan dan separuh lagi saat bahan sudah cair semua.
d. Singkirkan covering flux sesaat menjelang proses slag removal

Pada proses peleburan dengan tanur induksi, akibat adanya stirring, slag akan teraduk kedalam cairan. Bahkan ketika daya Anda setting diposisi holding, pergerakan cairan itu tetap ada. Saya sarankan, pada akhir pencairan (setelah suhu maksimum tercapai) nol kan daya tanur Anda sesaat. Pada saat ini tidak terdapat stirring sehingga slag akan naik kepermukaan. Taburkan slag remover dan benamkan beberapa cm kedalam cairan agar slag dibagian tersebut ikut mengental. Barulah singkirkan dengan cermat.

Untuk proses stainless steel seharusnya Anda sudah menerapkan filter dan mencegah turbulensi pada sistim saluran sebab semakin tinggi dan beragam paduan suatu bahan, maka produksi slag “setiap saat” akan semakin tinggi kecuali bila cairan Anda pisahkan dari O2 dari udara (misalnya pada proses vacuum).

Semoga membantu.

4 04 2013
angga

mohon maaf pak apa bila terjadi kecelakaan dalam pengolahan misal tanurnya meledak kita harus bagaimana

4 04 2013
R. Widodo

Yth mas Angga.

JANGAN sampai meledak. Pemeriksaan kondisi tanur dan lining serta pengoperasian yang benar menjadi kuncinya.

Bila sampai meledak itu salah Anda, maka begini urutan prioritasnya:

1. Tidak panik.
2. Segera matikan listrik dari saklar induk.
3. Buka cooling emregency
4. Selamatkan bila ada korban
5. Amankan lelehan cairan dan padamkan api
6. Perbaiki tanur setelah menjadi dingin.

Semoga tidak terpaksa dilakukan.

5 04 2013
Miftah

Assalamualaikum Pak Widodo…
Maaf pak, yang di maksud covering flux itu apa ya? apakah sejenis alat? bagaimana saya bisa mendapatkan itu?
Thanks

6 04 2013
R. Widodo

Waalaikumsalam

Yth mas Miftah

Flux adalah bahan (biasanya berbentuk serbuk) yang dibubuhkan untuk mendapatkan efek tertentu pada proses peleburan. Covering flux akan membentuk selapis slag cair yang menutupi permukaan cairan selama proses peleburan untuk mencegah masuknya O2 dan N2 dari udatra disekitarnya.

Ada banyak tipe flux untuk peleburan baja, untuk itu (agar tidak mengandung peasn komersial) saya hanya bisa menyarankan Anda untuk browsing melalui internet.

Semoga membantu.

6 04 2013
Miftah

Terimakasih Pak….
Salam Foundry, Salam HAPLI

21 06 2013
sunardi

Yth pak Widodo
mohon pencerahan mengenai Dasar Tungku Induksi pak.
Pertanyaan saya adalah:
– bahan jenis apa yang terbaik untuk sebagai alas lining tungku induksi?
– bagaimana urutan prioritas susunanya?
mohon beri gambaran sebagai pencerahan.
terima kasih
salam
sunardi

24 06 2013
R. Widodo

Yth mas Sunardi.

Berikut adalah bahan refrectory yang digunakan pada tanur induksi:

1. Castable rerfractory digunakan baik untuk cast top block/ring dan cast bottom block. Yaitu bagfian body furnace atas maupun bawah.
2. Coil grout (col cement) digunakan pada coil induksi dengan tujuan untuk menstabilkan coil agar tidak berubah ketika mendapat gaya2 akibat pemuaian/penyusutan.
3. Fibre/ceramic felt, atau insulating paper, atau mica plate sebagai slip plane antara area working lining dengan coil.
4. Dry ramming mix, sebagai working lining (lining yang langsung bersentuhan dg cairan), baik bawah maupun dinding. Terdiri dari acid lining (SiO2 based), basic lining (MgO based) dan neutral lining (Al2O3 atau Al2O3.SiO2 based), dipilih berdasarkan jenis logam yang diproses disini.
5. Plastics lining, digunakan untuk menutup bagian atas working lining (top cup) dan spout (saluran tapping).

Keterangan lain coba Anda lihat di http://viewforyou.blogspot.com/2008/10/induction-furnace.html

Semoga berguna.

1 07 2013
Riko

Yth. R. Widodo

bagaimana pak agar saya bisa/membuat lining tungku induksi ??

dan menggunakan bahan-bahan refaktori yang baik ??

karena saya sedang membuat skripsi tentang lining tungku induksi. .

terimakasih dan mohon dibantu. .

2 07 2013
R. Widodo

Yth mas Riko

Ada banyak aspek kajian pada lining tanur induksi, khususnya dry ramming mix. Tentu Anda harus memilih aspek yang mana yang akan dikaji dalam skripsi Anda, misalnya:

a. aspek bahan (grain fineness number) terhadap umur pakai.
b. ramming density terhadap pemuaian maupun umur pakai.
c. aspek teknik ramming (stamping, fibrasi) dan waktunya terhadap umur pakai.
d. aspek sintering, baik waktu maupun suhu terhadap umur lining
e. dan sebagainya yang masing2 dapat dikembangkan menjadi berbagai topik/judul skripsi.

Dengan menetapkan aspek kajian, maka Anda akan lebih fokus dalam melakukan berbagai percobaan.

Selamat meneliti.

24 07 2013
yuda

Yth. R. Widodo

maaf pak widodo, apa bapak bisa menjelaskan tentang pembuatan lining tungku peleburan aluminium berbahan silika ??

klo bapak memiliki data tentang proses pembuatan’a bisakah bapak kirim ke alamat email saya pak.

yuda_mantap88@yahoo.co.id

maaf bapak saya butuh sekali, mungkin bapak bisa membantu saya.

terimakasih pak widodo.

25 07 2013
R. Widodo

Yth mas Yuda.

Saya asumsikan Anda menggunakan tanur induksi, maka proses pemasangan lining sama saja dengan lining bahan lain. Dimulai dengan dry ramming mix, dipadatkan dengan bantuan lining former lalu disinter pada sedikit diatas suhu operasionalnya. Sy tidak menemukan buku yang khusus membahas tentang hal tersebut selain technical procedure dari beberapa supplier refractory dan materi seminar.

Lining silika (SiO2) tidak dgunakan pada peleburan aluminium, sebab O akan segera bersenyawa dengan Al menjadi Al2O3 sisanya Si akan larut kedalam Al. Lining peleburan Al yang terbaik berbahan Alumina.

Semoga membantu.

24 07 2013
dwi

Yth. R. Widodo

selamat malam pak.

pak apa saja untuk batasan masalah pada pembuatan lining tungku induksi berbahan silika ??

tolong diberi refrensi pak.

terimakasih.

25 07 2013
R. Widodo

Yth mas Dwi

Kalau yang dimaksud adalah masalah2 yang dapat terjadi pada pemasangan lining tungku induksi berbasis silika, antara lain:

Bahan (dry ramming mix):

a. Kesalahan pemilihan ukuran butiran (untuk tanur besar ukuran butiran semakin besar)
b. Kesalahan dalam penyimpanan bahan (lembab atau terlalu lama) menyebabkan terjadinya degradasi kualitas bahan.
c. Kesalahan dalam memilih persentasi binder (HBO atau BO, 0.5% atau 0.8%) yang akhirnya tidak sesuai dengan suhu operasional tanur.

Teknik pemasangan (stamping atau kah fibrating).

a. Sebenarnya stamping lebih baik, sebab butiran refraktory dapat terdistribusi secara homogen. Pada fibrasi, butiran kasar cenderung naik keatas (khususnya bila fibrasi dilakukan terlalu lama). Untuk tanur besar stamping tidak efisien, sebab butuh waktu dan tenaga yang banyak.
b. Layer per layer yang terlalu tebal akan mengakibatkan kepadatan berbeda, sedang bila terlalu tipis mengakibatkan over density.
c. Density (dalam hal ini jumlah bahan terpakai, kg/cm3) tidak sesuai dengan spek bahan refractory

Sintering.

a. Kurang perhatian terhadap pemuaian pasir silika (suhu 600, 900 dan 1450 terjadi perubahan fasa yang mengakibatkan pemuaian) mengakibatkan besrnya internal stress yang menyebabkan retak.
b. Waktu sintering terlalu cepat mengakibatkan fasa2 silika tidak berubah sempurna. Ini dapat menjadi penyebab pecahnya lining saat digunakan.
c. Holding pada suhu sinter terlalu lama dan terlalu tinggi, sehingga bagian tersinter (depan) terlalu tebal dan bagian terurai (belakang) tipis sehingga cepat habis. Bagian terurai ini berfungsi sangat penting untuk meredam cairan yang mampu menembus retakan pada bagian tersinter, sehingga tidak menembus coil.

Semoga membantu.

9 08 2013
Dwi Harto

Yth. R. Widodo

maaf pak bahan mana yang lebih baik dari pembuatan lining tungku pelebur alumunium ??

apakaha harus memakai Al2O3 atau MgO atau SiO2 ??

khusus lining untuk tungku peleburan aluminium ??

Terimakasih.

14 08 2013
R. Widodo

Yth mas Dwi.

Untuk peleburan aluminium tentu Alumina yang terbaik.

Semoga membantu.

25 09 2013
Rivan

Selamat pagi Pak R. Widodo

Pak saya sedang magang di suatu perusahaan besi cor..
Pak yang saya tahu bahwa Zn itu bereaksi dengan lining silika (asam)..

kasus disini kita mendapatkan scrap yang jelek dengan kandungan Zn yang tinggi..setelah cek komposisi kandungan Zn 1% lebih..dengan kondisi kita bisa menolak scrap tersebut..

Penanggulangan yang kita lakukan dengan mengontrol kecepatan Zn itu sendiri mengikis lining tanur sampai pada waktu harus melakukan sintering lagi..demi SAFETY..

yang saya ingin tanyakan bagaimana kita bisa mengontrol atau upaya untuk mengetahui kecepatan Zn mengikis lining tanur?

saya sudah sarankan untuk menggunkan lining netral tapi life time.n lebih pendek katanya dibandingkan lining asam…apakah betul Pak?

thanks

27 09 2013
R. Widodo

Yth mas Rivan

Permasalahannya bukan Zn mengikis lining, namun Zn memiliki titik lebur rendah, sehingga pada proses peleburan besi, suhu berada jauh diatas titik cai Zn sehingga (sebelum menguap) Zn akan menjadi sangat cair dan fluiditasnya tinggi sehingga mampu menembus pori2 dinding lining dan menyentuh coil. Jadi bukan karena reaksinya dengan bahan lining baik asam maupun netral.

Lining yang terbaik untuk proses peleburan besi cor, tetapasam (SiO2), sebab:

1. terak peleburan besi cor bersifat asam.
2. paling murah dan awet karena peruntukannya.
3. Reaksi cairan-terak-lining asam menghasilkan internal oxidation, sehingga kualitas cairan lebih bagus.

Semoga berguna.

30 09 2013
Rivan

oke Pak terima kasih sangat membantu sekali..

11 02 2014
irsan

assalamualaikum pak Widodo
saya irsan dari polman ceper
pak untuk furnace ukuran 5 ton low frequency, ketebalan lining yg di rekomendasikan kira2 brapa ya pak? yang safety tapi pemakaian enrgi nya rendah ( teballining tipis) apakah ada rumus untuk menghitung nya? terimakasih sebelumnya

12 02 2014
R. Widodo

Waalaikumsalam

Yth mas Irsan

Setiap merek furnace memiliki design sendiri2 serta ketebalan liningnya sendiri2 pula. Jadi saya sarankan Anda untuk mempelajari kembali manual book furnace Anda.

Tebal lining ditentukan oleh:
a. Kapasitas tanur (semakin besar tentu butuh semakin tebal)
b. Kualitas bahan lining (karena tanur Anda LF maka tentu liningnya SiO2 atau asam. Ada berbagai pilihan merek lining jenis ini)
c. Tipe proses. Maksudnya apakah Anda sering melakukan holding cairan didalam tanur atau segera Anda tapping sampai sisa 1/3 tanur saja.

Semoga membantu.

25 02 2014
Fajar ginanjar Dr

assalamualaikum..
pak widodo dan DKK..

saya Fajar mahasiswa polman ceper..

saya mau tanya pak, perinsip kerja slag remover itu gimana pak..?
terus reperensi tentang slag remover bari mana pak..

terimakasih

27 02 2014
R. Widodo

Waalaikumsalam

Yth mas Fajar

Slag remover terbuat dari mineral siliceous (mengandung Si) yang berfungsi untuk mengentalkan terak sehingga terkoagulasi dan mudah untuk diangkat. Kebutuhan slag remover ini sekitar 0.07% – 0.2%. Sayang sy belum menemukan referensi yang membahas khusus tentang bahan ini.

Semoga membantu.

17 03 2014
Fajar ginanjar Dr

Terimakasih pak atas infonya..

pak saya mau tanya lagi..
kemarin saya mengikuti preses Re-lining ditempat saya praktek..
disana saya menemukan kejadian dimana lining bagian bawah tanur tersebut paling cepat habis pak..

tanur yang dipakai Frekuensi rendah sehingga dalam prosesnya tanur terdapat hill untuk proses peleburan berikutnya..

pertanyaannya,, apakah hill tersebut mempengaruhi umur lining..?
terus solusinya apa pak..?

terimakasih..

20 03 2014
R. Widodo

Yth mas Fajar

Demikian memang yang terjadi pada tanur induksi frekwensi rendah. Oleh karena itu biasanya pada bagian bawah tanur diberi kem,iringan lebih (taper).

Semoga membantu

5 05 2014
stefany

yth mas R.Widodo
sy mau bertanya, bagaimana rasio pencampuran flux yang sesuai dengan kondisi tanur?
mohon penjelasannya pak
terima kasih

6 05 2014
R. Widodo

Yth mbak Stefany

Mungkin ada hubungan antara flux dg kondisi tanur, misalnya tanur yang sangat kotor tentu butuh tambahan flux untuk membersihkan cairannya yang tercemar. Namun demikian penggunaan flux selalu dikaitkan dengan kondisi cairan, sebab pada prinsipnya flux diberikan untuk treatment cairan hasil proses peleburan.

Semoga membantu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 68 other followers

%d bloggers like this: